Kenapa Jakarta & Surabaya Terasa Seperti Neraka?
Pernah merasa terjebak panas ekstrem saat naik motor di siang bolong? Ini bukan sekadar perasaan. Ini adalah fenomena nyata bernama Urban Heat Island (UHI).
Apa itu Urban Heat Island?
Data BMKG menunjukkan perbedaan suhu signifikan antara pusat kota yang padat beton dan area pinggiran yang lebih hijau. Fenomena ini disebut “Pulau Bahang Kota”.
Fakta Kunci:
- • Material bangunan (beton, aspal) menyerap dan menyimpan panas matahari.
- • Suhu permukaan aspal bisa mencapai 50°C+ saat suhu udara hanya 33°C.
- • Kurangnya evapotranspirasi karena minim pohon.
Siklus Suhu Harian (Ilustrasi)
Perhatikan bagaimana suhu kota tetap tinggi bahkan saat malam hari dibandingkan area pedesaan/hijau.
Akar Masalah: Krisis Ruang Hijau
Mengapa Jakarta dan Surabaya begitu panas? Jawabannya terletak pada proporsi Ruang Terbuka Hijau (RTH). Menurut UU Penataan Ruang, kota ideal memiliki minimal 30% RTH. Bagaimana realitasnya?
RTH Aktual vs Target Ideal (%)
Defisit Parah
Jakarta dan Surabaya masih jauh dari target 30%. Dominasi infrastruktur abu-abu (jalan, gedung) menggantikan infrastruktur hijau.
Dampak Langsung
Tanpa pohon peneduh, radiasi matahari langsung memanaskan permukaan jalan. Pengendara motor merasakan gabungan panas matahari langsung + pantulan panas aspal + panas mesin kendaraan.
Temuan WRI Indonesia
Studi menunjukkan area dengan tutupan pohon rapat memiliki suhu permukaan yang bisa lebih rendah 2-3°C dibandingkan area terbuka.
Dinginkan Kota Kita
Penambahan vegetasi adalah solusi paling efektif untuk melawan UHI. Gunakan simulator di samping untuk melihat bagaimana menambah tutupan pohon dapat menurunkan “Indeks Rasa Panas” (Heat Index).
Rekomendasi Aksi:
Dukung penanaman pohon di median jalan dan taman atap (roof garden) untuk mengurangi penyerapan panas bangunan.
*Simulasi sederhana berdasarkan korelasi umum tutupan kanopi dan suhu mikro.
